pertumbuhan ekonomi

Meteri Keuangan Sri Mulyani  | Yakin, Ekonomi Tumbuh 4.3 %

Yakin Ekonomi Tumbuh 4,3%

Disampaikan dalam Konfrensi Pers, Menteri Keuangan Sri Mulyani, meyakini Ekonomi Indonesia akan tumbuh di angka 4,3 % di ahir kuartal ke III Tahun ini, pasalnya dari bebrapa indicator, bertepatan dengan kondisi ekonomi di kuartal ini Indonesia masih menghadapi himpitan Varian Delta, Covid-19

Indikator Pertumbuhan

Beberapa Indikator Pertumbuhan Ekonomi disampaikan Mantan Pejabat Bank Dunia ini, diantaranya adalah Aktivitas Export dan Import, dan Juga tampak pada Surplusnya neraca perdagangan di bulan September lalu, yang memperoleh US $4,37 Milliar.

Disamping itu indicator Pnjualan Kendaraan Niaga juga menjadi sala satu pendongkrak tumbuhnya ekonomi, dimana penjualan kendaraan ini masih bertahan di peningkatan hingga 9 kali lipat. Meskipun, Neraca perdagangan mengalami surplus sejak Bulan mei 2020. Dan terjadi hingga 16 bulan berturut – turut.

Pandangan Berbeda

Pada kesempatan berbeda Ahli Ekomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Teuku Riefky, sedikit berbeda dalam menganalisa Kemungkinan Pertumbuhan ekonomi Indonesia. Beliau mencermati dari factor pembentuk Pertumbuhan Ekonomi, diantaranya :

Komponen Pertumbuhan

Komponen Pertumbuhan Ekonomi dari sisi Pengeluaran, dimana daya beli masyarkat yang saat ini sedang mengalami penurunan karena dampak pandemic, sehingga motor penggerak ekonomi dimungkinkan tidak tumbuh sebagaimana terjadi di kuartal ke II – 2021.

Sedangkan PMTB (Pembentukan Modal tetap Bruto) dan juga Gairah Investasi yang sangat mungkin tertahan oleh situasi Pandemi, dengan adanya pembatasan pergerakan, dan ini bisa menghambat penanaman modal.

Hanya catatan pertumbuhan positif terjadi pada dua factor yakni membaiknya komponen konsumsi pemerintah yang saat ini masih cukup massive disebabkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat. Alhasil serapan akan dipercepat.

BACA JUGA  BLT UMKM, BPUM 1,2 Juta  gini cara ceknya

Membaiknya Pasar expor juga menjadi factor yang terbilang positif, oleh karena menggeliatnya aktivitas Export dan Import, yang terjadi karena kenaikan harga komodity di pasar global, seperti batubara dan nikel, tingginya permintaan membuat sector pertambangan bergerak kea rah positif.

Masih menurut Ekonom UI ini, memperkirakan tumbuhnya ekonomi Indonesia masih pada kisaran 3,5 hingga 4%, kurtal III ini akan lebih rendah dari Kuartal sebelumnya yang mencapai 7,07%. Namun beliau mengatakan bahwa angka tersebut masih tentative, karena ada dua factor yang mempengaruhi ini.

Low Base Effect

Lebih jauh beiau menjelaskan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ke II 2021, yang mencapai 7% merupakan pengaruh dari adanya Low Base Effect, yaitu kondisi dimana Indonesia mengalami kondisi Ekonmi hingga Minus -5,32 % pada kuartal II 2020. Itu menjadi titik balik ketika ekonomi mencapai kondisi titik terendah.

Pertumbuhan Minus 3,49% pada kurtal ke III 2020, kendati masih masuk dalam zona kontraksi, namun sudah mengalami pertumbuhan.

Jadi meskipun lebih tinggi dari kuartal ke III 2020, hampir dapat dipastikan titik baliknya tidak akan setinggi kuartal ke III 2020, hal ini menjadi dasar bagi kemungkinan pertumbuhan Kuartal ke III lebih rendah dari kuartal sebelumnya.

 

Sumber : Kontan.com, Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *